0

Training The Secret of Succes Training

Labels:

Sebuah Training Dahsyat yang akan mengungkapkan "Bagaimana menjadi PEMENANG dalam sebuah Pertandingan yang bernama KEHIDUPAN"

Rahasia Sukses yang akan kami bongkar untuk Anda :

1. 7 Hukum Alam dalam Proses Pencapaian Keberhasilan
2. Kiat Jitu menjadi Pemimpin di dalam Hidup
3. Bangkit dari Keterpurukan dan Terus Maju di masa sulit
4. Tehnik Membuang Penundaan dalam Hidup
5. Menjadi Pribadi yang Dahsyat dan Mencerahkan 
6. 37 Prinsip Kaya ala Robert Kiyosaki
7. Tehnik Bahagia untuk Sukses dan Sukses yang Berbahagia


Bersama:
MR. Syafi'i Efendi
Trainer Muda Sumut
Dirut PT. Global Indo Production Learning Centre
co.Founder Indonesian Entrepreneur Club

Invest : 50.000,- (ONLY)

Fasilitas :
Sertifikat
Lunch
Snack
Buku “Secret to be Success” senilai Rp. 50.000,-
Mind Map the Real Success senilai Rp. 900.000,- dan
Doorprize (HP Querty)

Hari, Tanggal : Sabtu, 21 April 2012
Tempat : Aula PUSBINSA-IAIN Sumut
Pukul : 08.30 s/d 15.30 Wib (Full Day Seminar)

Tunggu apa lagi,,,
Buruan daftar!!!!
Tempat terbatas hanya untuk 100 orang

CP:

Ardi : 087867564521
Shafni : 085762122032
Indra : 085664459511

0

Training Giant Step - Temukan Potensi Terpendam Anda

Labels:

Tahukah Anda jika Wyne Rooney, pemain bola asal MU sempat mendapatkan bayaran 2,7 milyar/minggu?!

Atau Bill Gates yang menempati urutan paling TOP dalam jajaran Manusia terkaya di Dunia selama 12 kali?!.

Atau Tukul Arwana yang bertarif 40juta/episode dalam acara 4 MATAnya?!.

Mereka semua mendapat bayaran Besar dan Enjoy dalam Pekerjaannya.




Apakah karena mereka lebih tampan dari manusia lainnya?.

Jelas Tidak!.

Apakah mereka lebih pintar?.
Tidak juga!.
Apakah mereka lbih beruntung?.
Mungkin iya, tetapi Jawaban yang paling Logis adalah mereka Berhasil menemukan Bakat terpendam mereka sebelum orang lain menemukannya!



Lalu Bagaimana cara Anda mendeteksi bakat Anda sehingga berpeluang menjadi jutawan berikutnya tanpa harus mengorbankan kebahagiaan Anda?


Daftarkan diri Anda segera dalam "Training Giant Step - Temukan Potensi Terpendam Anda"  bersama Andi Meisak (Trainer Muda Program MENPORA)


0

Pribadi To Do, To Have, atau To Be?

Labels:

“Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain.” (Victor Hugo)

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan.


Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.

Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.

Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.

Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu, kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang keuangan dan marketing pernah berujar, “Banyak orang mengatakan berbisnis. Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis.” Marilah kita menengok hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa sadar kita tidak menghasilkan apa-apa?

Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan. Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.

Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang.

Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.

Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. “Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya…,” katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.

Memaknai hidup
Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.

Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.

Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan “Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?”

Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India.

Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna dan berkontribusi!

0

Jurus Sakti Melejitkan Potensi

Labels:



Sebuah Training yang akan membantu Anda untuk melejitkan potensi yang Anda miliki, dan mengubahnya menjadi prestasi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya !!


Training ini akan mengajak Anda untuk menyelami samudera kecerdasan terdahsyat yang Anda miliki. Sehingga Anda merasakan jiwa KEOPTIMISAN merasuki diri Anda Jauh lebih dalam,, jauh lebih dalam,, jaaauuuuh lebiih dalaam dari sebelumnya !!

Jadi tunggu apalagi?? Buruan DAFTAR....!!!

Only : Mahasiswa, Pelajar, Umum
HTM: Rp. 25.000  
Include : Snack, Sertifikat, Doorprize

CP :
Ardi : 0878 6756 4521 (Umum/Pelajar)
Ibnu : 0819 7304 2773 (UNIMED)
Tito : 0857 6119 1097 (USU)
Shafni : 0852 6200 9489 (IAIN)